Rabu, 11 November 2020

Buku "ADAM (Antara Dia Aku dan Mereka)" Bagian 5: Paradoks Kehidupan


Kejutan dan harapan adalah bagian dari masa depan yang kita rasakan pada masa lampau atau masa kini. Dua hal yang dinantikan untuk masa depan yang ingin dirasa indah. Kejutan yang baik dan harapan yang baik dari sebuah angan masa lampau untuk masa depan. Kejutan yang diluar kuasa kita dan harapan adalah hak kita untuk tetap hidup. 

Memang benar manusia dapat hidup salah satunya karena adanya harapan. Harapan yang selalu dipanjatkan akan menjadi sebuah energi untuk tetap hidup, entah dengan tujuan atau belum ada tujuan. Yang jelas, sebuah harapan jika disertai dengan tujuan, maka hidup akan jauh lebih bermakna. 

Diri sendiri adalah bagian dari hidup sepenuhnya. Masa depan juga ditentukan oleh keputusan-keputusan yang diambil dari masa lampau. Masa depan disebut bagian dari kebiasaan kita, waktu kita, dan berbagai macam pengalaman yang kita peroleh. Akumulasi dari hal-hal itulah yang membuat kita hidup sesuai dengan keadaan saat ini. Tapi itu bukan hukum mutlak, diri sendiri memang sepenuhnya dari hidup kita. Tetapi ada banyak hal pula yang mempengaruhinya yang ada diluar kendali kita. Mengimani atau belum mengimani hal tersebut juga tergantung pada diri sendiri. 

Mengandalkan diri sendiri memang tak ada yang salah, yang salah ada bergantung pada orang lain. Jika harapan itu hak kita, lantas mengapa kita berharap pada orang lain? padahal kita masih bisa berharap pada diri sendiri, kita dapat mengontrol diri kita sendiri, kita dapat memahami apa yang sebenarnya kita mau. Maka dari itu kita dianjurkan untuk lebih mengenal diri sendiri agar tau, sesekali merenung dan berbicara pada diri sendiri. Dengan begitu kita tau bagaimana kita, dimana kita berada, dan apa yang menjadi tujuan kita sebenarnya. Memang tidak mudah, tetapi terus mencoba adalah hal yang tidak sulit bukan?

Jangan tergesa-gesa meskipun sifat itu memang bagian dari diri manusia. Menjadi sabar itu sulit, itulah yang membuat sabar menjadi andalan manusia-manusia baik dan sukses.
Nikmati setiap perjalanan yang dilalui, proses untuk mencapai tujuan adalah bagian perjalanan yang nanti akan dirindukan jika kita sudah sampai. Mari nikmati perjalanan hidup dengan penuh makna :)

Rabu, 28 Oktober 2020

Quarter Life Crisis (Jejak Pendapat 2)

Fase kehidupan seseorang pasti melewati fase ini, yaitu fase Quarter Life Crisis (QLC). Banyak yang menilai bahwa fase ini fase yang pelik dan sukar dan sulit untuk diterima dan ditakhlukan. Tak sedikit mereka yang enggan atau bahkan menyerah pada fase ini. Memang fase ini adalah fase kehidupan yang  membuat kita untuk terus struggling.

Lalu apa sih QLC itu?

Suatu krisis yang dialami seseorang dengan rasa ragu, cemas, khawatir hingga rasa ketidakpuasan kepada diri sendiri pada usia menginjak dewasa. 

Tak banyak juga yang menyadari bahwa fase ini adalah fase yang banyak pelajarannya. Pelajaran atau hikmahnya dapat diambil dari setiap proses yang dilalui. Proses yang akan membuat kita semakin mampu untuk menghadapi masa depan atau bisa juga tahapan yang menjadi suatu titik balik kehidupan. Titik balik untuk lebih baik dari masa sebelumnya, tapi ada juga yang menjadikan sebuah hal menakutkan dan mencoba menghindar untuk menyelesaikan prosesnya. Padahal sangat disayangkan jika terus menghindar, kita tidak akan pernah tau tantangan yang sebenarnya. Tantangan itu dapat kita ketahui kalau merasakannya secara langsung dan kita terlibat didalamnya. Sensasi kalah, merasa rendah, bodoh, tidak tau apa-apa adalah sensasi yang membuat kita akan lebih semangat dalam belajar kehidupan. 

Kehidupan memang untuk dijalani, tidak sekedar dipikirkan saja. Sensasi yang mendebarkan atau menakutkan pada fase QLC memang lumayan membuat ketar-ketir. Itu wajar, kita juga punya kadar masing-masing dalam kemampuan tahan atau tidak tahan. Tapi yang namanya proses ketika sudah dijalani siap ngga siap juga akan siap, mampu ngga mampu nantinya juga akan mampu. Meskipun jalannya terseok-seok atau bahkan sampai jatuh pun akan membuat kita semakin kuat dalam menjalaninya. Tapi, ingat juga bahwa dalam menjalani proses tentu butuh waktu untuk istirahat. Jangan sepelekan waktu untuk istirahat, agar tetap semangat dan terus bisa menjalani prosesnya.

Kemampuan yang kita miliki, kita sendiri yang mengetahuinya. Maka kita juga yang tau kapan lelah, kapan semangat membara, dan kapan waktunya istirahat semua butuh manajemen waktu untuk tetap selaras antara lelah dan semangat dalam menjalani proses. Manajemen waktu akan sangat perlu dalam menjalani setiap proses agar terus berprogres. 




Jumat, 23 Oktober 2020

Diantara Bertemu dan Berpisah

 


Datang dan pergi adalah perihal pertemuan perpisahan yang tak kunjung ada habisnya

Perpisahan seringkali dianggap tidak menyenangkan

Dan pertemuan dianggap asing atau saling mengakrabkan

Keduanya tergantung bagaimana kita menyikapi

Kondisi yang membuat nyaman akan terasa sedih jika sampai pada perpisahan

Dan bisa saja hal yang menyesakkan terasa lega jika bertemu dengan kata perpisahan

Jadi seringkali bertemu dengan rasa sedih atau rasa lega ketika berpisah?

Lain halnya dengan pertemuan

Bisa saja bertemu menjadi menyenangkan dan menjadi rasa syukur

Atau bertemu menjadi sesal karena tidak diinginkan

Lalu seringkali merasa syukur atau menyesal jika bertemu?

Ya semua tergantung dengan siapa dan bagaimana, yakan?

Semua yang kita rasakan akan menjadi sebab mengapa ada pertemuan dan perpisahan

Rasa yang seringkali menjadi bayangan menghantui ketika kita terlalu berharap

Ya, harapan itu kadang kala menjadikan rasa terlalu mendominasi

Anggapan dan harapan tentang perpisahan dan pertemuan memang sulit untuk sejalan bagi semua orang

Yang terpenting kita mempunyai alasan untuk itu, agar kita tak hanya sekedar menganggap dan mengharap

 

 

Rabu, 07 Oktober 2020

Buku "ADAM (Antara Dia Aku dan Mereka)" Bagian 4: Strategi Kehidupan

 



 

“Dan kau tau, tak perlu pintar untuk menang dalam hidup. Kau hanya perlu untuk tidak bodoh”

Pada dasarnya kehidupan menuntut kita untuk memahami dan mengerti akan suatu keadaan. Baik yang terjadi dalam hidup kita maupun orang lain. Untuk tetap bisa survive sebagai manusia kita tidak perlu untuk pintar dalam memahami dan mengerti segala hal, hanya saja kita cukup untuk tau. Tau bagaimana bersikap dan tau bagaimana mengambil keputusan.

Pintar memang bukan jaminan untuk kehidupan yang lebih baik, pintar yang dimiliki manusia memang terbatas. Sebatas hanya beberapa bidang saja. Perlu disadari bahwa setiap orang memang memiliki keistemewaan masing-masing. Tak perlu dibandingkan dan tak perlu diadu perihal masalah itu.

Pintar kini bukan lagi masalah yang seberapa, hanya saja yang perlu diingat semakin seseorang memahami sesuatu maka seseorang tersebut merasa semakin banyak lagi yang tak diketahui dan semakin luas seseorang berkelana maka seseorang tersebut merasa bahwa makin luas lagi bagian bumi yang tidak diketahui. Mengapa bisa begitu? Karena yang benar memahami bukan lagi merasa pintar tapi justru merasa bodoh bahwa selama ini apa yang diketahui hanya sebagian kecil dan yang dijelajahi selama ini juga hanya sebagian kecil dari belahan bumi yang ada.

 Perihal manusia tentu kita seringkali membandingkan, padahal kita sama-sama manusia yang mempunyai keistimewaan masing-masing berdasarkan pengalaman hidup yang dialami. Kita menyadari bahwa setiap insan yang ada, pasti merasakan hal semu seperti adanya perjumpan yang berakhir pada perpisahan dan kebersamaah yang berakhir pada perseteruan. Dan semua itu berakhir ketika kita sedang merasakan rindu.

 

 

Sabtu, 05 September 2020

Pergi

Akan ada saatnya yang terucap akan hilang
Waktu akan menghapus
Kesabaran yang terbatas
Kejelasan yang tanpa kabar
Hati yang kembali rumit

Saatnya untuk mengambil langkah
Seiring menghapus jejak lalu pergi 
Tidak ada yang salah 
Memang itu yang harus dilakukan
Tak usah kembali berharap

Tak ada yang salah 
Bahwa kita tak peduli kepada yang takpernah menyapa
Tak ada yang salah
Jika kita tak kembali percaya
Setelah semua kata yang terucap sirna oleh waktu

Tak perlu untuk disesali 
Hanya saja perlu untuk disadari
Bahwa apa yang terucap dari manusia
Bisa saja ingkar
Bisa saja hanya penenang di waktu yang belum jelas

Semakin yakin bahwa apa yang sudah diatur 
Kita hanya perlu mengiyakan 
Tanpa mengelak dan mengutuk
Memang bukan milik kita
Ikhlaskan bahwa semua kata, kini tak lagi berarti




Kamis, 20 Agustus 2020

Netizen (Jejak Pendapat 1)




Problematika kini...
Era digital yang tak bisa dihindari
Tetap mengikuti ritme digitalisasi agar tidak tertinggal dengan jaman
Berusaha untuk menyesuaikan trend yang ada 
Menelusur sudut pandang yang mendominasi dan ikut mendukungnya
Sosial media menjadi sumber landasan utama
Nafsu semakin menguasai
Menjadikan nalar mati tak berkutik
Bahkan hati nurani mendadak hilang

Padahal kita perlu untuk sadar, sebab..
Tak hanya pada batas trend dan suara mendominasi yang sifatnya menghakimi
Hingga nalar ditelantarkan

Banyak hal yang perlu diperhatikan
Era digital yang menuntut kita untuk bijak 
Boleh saja mengikuti trend tapi harus selaras dengan nalar
Pernyataan yang mendominasi juga tidak harus diikuti 
Perlu filter untuk mendukungnya
Jika tak difilter bisa jadi kita menjadi bu**er gratisan
Lebih hina bukan dari bu**er bayaran?

Hak kebebasan berpendapat memang dilindungi oleh Undang-Undang
Tetapi Undang-Undang bukan untuk kedok dalam seenaknya berpendapat
Tulisan kita di sosial media perlu diperhatikan
Pun hal yang kita bagikan juga perlu dipikirkan kembali 
Layak atau tidak, pantas atau tidak, kita sendiri yang menentukan

Hindari malas untuk membaca agar menjadi netizen yang cerdas
Semoga tetap dalam koridor waras 

Kamis, 06 Agustus 2020

Buku "ADAM (Antara Dia Aku dan Mereka)" Bagian 2: Perihal Masa Lalu

 


“Lucu, bagaimana sederhananya hidup ini. Begitu engkau berjalan maju, maka kenangan mulai meninggalkanmu. Adakah aku yang berjalan maju, atau kenangan yang meninggalkanku?”

Kutipan dari Buku ADAM yang butuh renungan untuk memahaminya, lalu tersadar bahwa seputar masa lalu loginya semudah itu, tapi terkadang kita yang sibuk untuk memperumit hal itu dengan berlarut dalam kenangan yang mungkin kebanyakan dari kita terjebak di masa itu dan sulit untuk bergegas dalam mengusahakan masa depan. 

Perubahan memang tidak serta merta hadir dalam benak, tetapi ia dimulai dari sebuah masa lalu yang mempunyai peranan sendiri untuk menghadirkan kesadaran. Peranan dari masa lalu memacu diri untuk perbandingan dengan kondisi kini bahkan masa depan. Jika kondisi saat ini kurang diinginkan, maka kita akan melihat masa lalu, sebuah riwayat yang ada dalam diri yang tidak dapat dihindari. Baik atau buruk dari cerita masa lalu atau kenangan adalah bagian dari diri, kita tak perlu memilah keduanya karena mereka  adalah bahan untuk belajar di masa yang akan datang. Dan dalam masa depan kita bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Baik dan buruknya masa lalu itu hanya perlu disimpan dan ditinggalkan. Menyimpan hal-hal baik dan meninggalkan hal-hal buruk. Kita perlu untuk berpindah guna membuat jarak, rentang jarak agar tidak lagi menyiksa dengan hal-hal yang berdampak pada diri.

Karena masa lalu memang untuk diselesaikan, bukan untuk dipendam lalu menjadi bom waktu yang akan meledak suatu saat nanti. Berdamai dengan masa lalu, untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya. Hanya kita yang tau bagaimana menempuh tujuan itu. Saat semua selesai dengan masa lalu, maka tidak ada yang bisa menghalangi apapun untuk menuju masa depan sesuai dengan tujuan.

Ada kalanya tiap-tiap mereka menuntut kita untuk melakukan sesuatu, padahal mereka tidak tau sepenuhnya dan tidak tau juga apa yang sebenarnya kita butuhkan. Tuntutan itulah yang terkadang menjadi beban yang bisa saja muncul sewaktu-waktu di masa yang akan datang. Tuntutan mereka bisa saja menghabisi kita di masa itu, jika bertolak belakang dengan apa yang sebenarnya kita butuhkan. Lantas bagaimana jika belum mengetahui apa  yang sebenarnya kita butuhkan? Apa yang ada di diri kita sebenarnya, ya hanya kita saja yang tahu, jiwa kita yang menyimpan apa yang sebenarnya kita butuhkan. Hanya saja selama ini kita sibuk dengan berisiknya sebuah tuntutan yang tak tau arahnya kemana. Ambil waktumu untuk mendengarkan isi hatimu dan ikutilah, menuruti diri sendiri akan mencukupi apa yang sebenarnya kita butuhkan, jika kita tau itu.

Dalam buku ini ada kalimat yang menyadarkan kita bahwa sering kali masa lalu itu menjadi beban, padahal kita perlu memahami semua yang sudah terjadi. Masa lalu bukanlah beban, hanya saja kita yang menjadikannya seperti itu. Masa lalu adalah sebuah peristiwa yang tak dapat diulang dan hanya perlu kita renungkan untuk mengubahnya menjadi energi baru dalam menghadapi apapun yang terjadi di masa kini atau di masa depan nanti.

Jika masa lalu masih menjadi beban, maka selesaikanlah. Jika tidak bisa dengan merenungkan dan memberi pengertian pada diri sendiri, minta bantuan kepada mereka yang benar-benar mengerti akan hal itu. Dan sebaik-baik jalan buntu yang kita temukan dalam hidup ini adalah hanya meminta petunjuk kepadaNya. Tetap hidup dan tetap bermanfaat di masa kini dan masa depan, kebebasan dan kebahagiaan sudah menanti disana J