Tampilkan postingan dengan label BacaBuku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BacaBuku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Agustus 2020

Buku "ADAM (Antara Dia Aku dan Mereka)" Bagian 2: Perihal Masa Lalu

 


“Lucu, bagaimana sederhananya hidup ini. Begitu engkau berjalan maju, maka kenangan mulai meninggalkanmu. Adakah aku yang berjalan maju, atau kenangan yang meninggalkanku?”

Kutipan dari Buku ADAM yang butuh renungan untuk memahaminya, lalu tersadar bahwa seputar masa lalu loginya semudah itu, tapi terkadang kita yang sibuk untuk memperumit hal itu dengan berlarut dalam kenangan yang mungkin kebanyakan dari kita terjebak di masa itu dan sulit untuk bergegas dalam mengusahakan masa depan. 

Perubahan memang tidak serta merta hadir dalam benak, tetapi ia dimulai dari sebuah masa lalu yang mempunyai peranan sendiri untuk menghadirkan kesadaran. Peranan dari masa lalu memacu diri untuk perbandingan dengan kondisi kini bahkan masa depan. Jika kondisi saat ini kurang diinginkan, maka kita akan melihat masa lalu, sebuah riwayat yang ada dalam diri yang tidak dapat dihindari. Baik atau buruk dari cerita masa lalu atau kenangan adalah bagian dari diri, kita tak perlu memilah keduanya karena mereka  adalah bahan untuk belajar di masa yang akan datang. Dan dalam masa depan kita bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Baik dan buruknya masa lalu itu hanya perlu disimpan dan ditinggalkan. Menyimpan hal-hal baik dan meninggalkan hal-hal buruk. Kita perlu untuk berpindah guna membuat jarak, rentang jarak agar tidak lagi menyiksa dengan hal-hal yang berdampak pada diri.

Karena masa lalu memang untuk diselesaikan, bukan untuk dipendam lalu menjadi bom waktu yang akan meledak suatu saat nanti. Berdamai dengan masa lalu, untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya. Hanya kita yang tau bagaimana menempuh tujuan itu. Saat semua selesai dengan masa lalu, maka tidak ada yang bisa menghalangi apapun untuk menuju masa depan sesuai dengan tujuan.

Ada kalanya tiap-tiap mereka menuntut kita untuk melakukan sesuatu, padahal mereka tidak tau sepenuhnya dan tidak tau juga apa yang sebenarnya kita butuhkan. Tuntutan itulah yang terkadang menjadi beban yang bisa saja muncul sewaktu-waktu di masa yang akan datang. Tuntutan mereka bisa saja menghabisi kita di masa itu, jika bertolak belakang dengan apa yang sebenarnya kita butuhkan. Lantas bagaimana jika belum mengetahui apa  yang sebenarnya kita butuhkan? Apa yang ada di diri kita sebenarnya, ya hanya kita saja yang tahu, jiwa kita yang menyimpan apa yang sebenarnya kita butuhkan. Hanya saja selama ini kita sibuk dengan berisiknya sebuah tuntutan yang tak tau arahnya kemana. Ambil waktumu untuk mendengarkan isi hatimu dan ikutilah, menuruti diri sendiri akan mencukupi apa yang sebenarnya kita butuhkan, jika kita tau itu.

Dalam buku ini ada kalimat yang menyadarkan kita bahwa sering kali masa lalu itu menjadi beban, padahal kita perlu memahami semua yang sudah terjadi. Masa lalu bukanlah beban, hanya saja kita yang menjadikannya seperti itu. Masa lalu adalah sebuah peristiwa yang tak dapat diulang dan hanya perlu kita renungkan untuk mengubahnya menjadi energi baru dalam menghadapi apapun yang terjadi di masa kini atau di masa depan nanti.

Jika masa lalu masih menjadi beban, maka selesaikanlah. Jika tidak bisa dengan merenungkan dan memberi pengertian pada diri sendiri, minta bantuan kepada mereka yang benar-benar mengerti akan hal itu. Dan sebaik-baik jalan buntu yang kita temukan dalam hidup ini adalah hanya meminta petunjuk kepadaNya. Tetap hidup dan tetap bermanfaat di masa kini dan masa depan, kebebasan dan kebahagiaan sudah menanti disana J

Selasa, 21 Juli 2020

Buku "ADAM (Antara Dia Aku & Mereka)" Bagian 1: Kesadaran dan Perubahan


Akan ada beberapa bagian untuk tulisan terkait buku ini karena setiap lembar hanya terdapat beberapa kata dan terdapat ilustrasi yang menggambarkan cerita dari setiap tulisan. Dalam buku ini, setiap katanya membutuhkan renungan yang cukup dalam untuk memahami. Barakallah @hawariyyun dan ustadz @felixsiauw

 

“ Terlalu lama sudah kita meraba dalam kegelapan, tanpa tahu apa yang berada dalam terang. Maka ketika sinar itu merambat masuk, pastikan kau membuka jendela. Karena sungguh, jiwamu membutuhkannya. Dan lihatlah saat cahaya menerangi kamar kesadaranmu, kau tak akan ingin jendela itu tertutup lagi.”

Tentang sebuah kegelisahan akan kondisi diri sendiri, khawatir karena mulai mengenal kata berubah. Khawatir akan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat selama ini dan menyadarinya lalu diantara kekahawatiran itu terselip kata berubah.

Mulai menyadari bahwa diri ini masih berada dalam kondisi yang jauh dari kata baik yang diliputi dengan kebodohan.  Berangkat dari sebuah kesadaran itulah, maka timbul keinginan untuk berubah dengan cara tersendiri bahkan bisa saja melampaui orang lain.

Lantas bagaimana untuk memulai itu? langkah pertama yang dapat dilakukan adalah dengan melakukannya. Berubah tidak hanya sekedar keinginan, akan tetapi mulai “action” atau bertindak secara nyata. Tidak hanya hati yang merasa ingin berubah, tetapi mulut juga harus berkata, pikiran harus bekerja, tangan harus bertindak, dan kaki harus melangkah ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Langkah pertama adalah dimulai dari keyakinan yang sudah terlampau jauh meninggalkan sebuah keraguan.

Sadar bahwa jika sekedar keinginan tidak akan cukup untuk mengenal kata berubah. Maka butuh usaha yang maksimal untuk mencapai hasil yang maksimal juga. Hukum dari perubahan beserta hasilnya adalah berbanding lurus. Karena pada dasarnya tidak mengenal kata mudah dalam mewujudkan suatu perubahan, kemudahan tidak berjalan beriringan dengan keberhasilan. Dan jangan merasa cepat puas, karena yang demikian adalah musuh dari perubahan.

Harus diakui bahwa menyadari keburukan adalah awal dari kebaikan. Merasa lebih buruk adalah perasaan yang diperlukan ketika melakukan sebuah perubahan, agar tidak mudah cepat puas. Dengan begitu, langkah untuk melakukan perubahan akan semakin mantap dan kita tidak akan pernah merasa cukup untuk melewati setiap proses yang berjalan. Kita akan tetap tumbuh dalam setiap langkah perubahan.

Tuhan menciptakan waktu untuk kita mengisinya. Perihal mengisi waktu, kita sendiri yang berhak menentukannya. Dan perihal perubahan, maka waktu menciptakan sebuah kemungkinan beserta harapan bagi mereka yang mau bergerak dan melakukan prosesnya. Serta jangan lupa ketika akan menjalani sebuah proses perubahan, letakan terlebih dahulu beban-beban yang ada. Perubahan tidak mengenal kata beban, hanya saja momentum yang harus kita usahakan untuk mencapai tujuan. 


Sabtu, 02 Mei 2020

Menyelami Jiwa dan Ruh: Part 1

pict by:AyoBaca

Manusia adalah makluk spesial yang diciptakan oleh Allah dengan segala keistimewaan-keistimewaannya. Lewat keistimewaan ini, manusia juga mempunyai fitrah yang sama dan kemampuan yang berbeda-beda. Buku ini mengungkap dari segi Al Qur’an dan ilmu pengetahuan yang sudah diteliti yang keduanya sama-sama menjadi pedoman hidup manusia.
Mungkin kita belum sepenuhnya mengenal siapa kita? Dari apa kita diciptakan? Bagaimana kita diciptakan? Dalam diri kita ada apa saja komponennya?  Lalu, bagaimana kalau kita belum mengenalinya dengan baik? Apa kita sudah mengenali Sang Pencipta?
Pertanyaan-pertanyaan yang terkadang sepele, tapi sebenarnya penuh makna. Mari renungkan jika kita tidak mengenal atau tidak mengetahui siapa diri kita. Jika kita tidak mengetahui sebenarnya diri kita maka kita tidak tau pula apa dan bagaimana tugas kita di dunia. Segala keistimewaan yang diberi untuk setiap manusia jika kita tidak mengenali maka akan sia-sia kehidupan yang telah di anugerahkan. Sia-sia akan membawa pada kehidupan yang  tidak hidup karena kita tidak menggunakan kesempatan dengan baik, karena masalahnya memang kita belum mengenali siapa diri kita.
Mungkin yang selama ini terlintas pada umumnya adalah sebatas pandangan mata imajiner yang sangat mudah terlihat lewat mata panca indra yang sifatnya sangat terbatas, bahkan kita hanya memandangnya dan jarang atau bahkan tidak pernah merenungkan apa yang dilihat lewat mata imajiner.
Faktanya di dunia  ini terdapat dua kosmos yaitu makrokosmos dan mikrokosmos, makrokosmos adalah yang dapat dilihat oleh mata imajiner seperti langit, bumi dan segala isinya sedangkan mikrokosmos adalah terdiri dari proton, neutron, elektron dan sejenisnya yang untuk melihatnya harus menggunakan alat.
Manusia seringkali berkutat pada pemikiran materiil dan energy tanpa memikirkan esensi kehidupan. Apalagi di jaman sekarang yang hidup serba tuntutan materi dan energy untuk memenuhi nafsu atau ego manusia.
Jiwa dan Ruh terdapat di Al Quran yang dipaparkan di berbagai surat dan ayat, tapi jika dibandingkan di Al Quran banyak membahas perihal jiwa ketimbang ruh, karena memang jiwa yang bersemayam dalam diri manusia yang membawanya kedalam kehidupan yang seperti apa yang menentukan atau yang memilih baik atau buruknya adalah jiwa.
Berbicara mengenai jiwa dan ruh tentu saja terdapat pengendalinya didalam tubuh manusia yaitu otak. Otak merupakan tempat pusat seluruh aktifitas yang mengendalikan fisik dan mental seseorang. Didalam otak terdapat beberapa wilayah yaitu wilayah satu yang bernama cortex cerebri yang bertugas untuk memahami, merasakan, menganalisa dan merespon secara motorik, wilayah dua terdapat sistem limbic yaitu pengendali sikap jujur, adil, pemaaf, mencintai, membenci, sedih, gembira, wilayah tiga terdapat batang otak dan otak kecil yang mengatur denyut jantung, pernapasan, tekanan darah dan keseimbangan.
Jadi, komandan yang sesungguhnya tidak berada di salah satu bagian otak, melainkan tersebar dalam bentuk program-program canggih yang mengisi sekitar 100 miliar sel saraf otak. Didalamnya terdapat genetika yang mana ditentukan oleh takdir.

Sabtu, 11 Mei 2019

Review Buku: Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat (Mark Manson)



Sebuah buku motivasi yang unik, dari judulnya sudah mampu membuat orang mengernyitkan dahi. Dengan tampilan cover oranye dengan tulisan judul bewarna hitam sehingga nampak sangat jelas dengan isi buku 246 halaman. Mark Manson adalah seorang blogger asal New York dengan 2 juta pembaca, ini adalah buku pertama kali yang sukses karena diklaim “buku terlaris” oleh New York Times dan Global and Mail.

Pertama kali baca, agak kurang srek di hati karena emang agak kurang dapet feel kalau baca buku terjemahan. Tapi setelah berusaha untuk membaca lagi, sangat menarik. Menarik karena dalam buku ini, memandang kehidupan dengan sudut pandang yang berbeda dengan pandangan hidup yang kebanyakan orang yakini. Buku ini mampu mengulas permasalahan hidup yang sebenarnya terjadi dan bagaimana manusia seharusnya menghadapi.

Di bagian awal menceritakan seseorang yang hidupnya berantakan dan penuh masalah, tetapi pada akhirnya sukses karena dia menjadi seseorang yang mau mengakui keburukan-keburukan yang dilakukan dan konsisten terhadap mimpinya. Bab-bab selanjutnya banyak cerita yang mewakili kiat-kiat untuk menghadapi hidup yang sesungguhnya. Cerita-cerita tersebut mendukung ilustrasi akan pesan yang disampaikan penulis ke pembaca.

Terdapat 3 seni untuk bersikap bodo amat dalam kehidupan, yaitu #seni 1: Masa bodoh berarti bukan menjadi acuh tak acuh, masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda. Bersikap masa bodoh terhadap kesengsaraan yang menghalangi tujuan, tidak ambil pusing dengan orang-orang yang geram saat melakukan sesuatu yang dirasa benar/penting/mulia. Intinya menemukan hal sulit yang bisa dihadapi dan dinikmati. #seni2: Untuk bisa mengatakan “bodo amat” pada kesulitan, pertama-tama harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan. Maksudnya, menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam kehidupan, mungkin menjadi cara yang paling produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga. Karena jika tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, perhatian akan tercurah untuk hal-hal yang tanpa makna dan sembrono. #seni 3: Entah disadari atau tidak, selalu memilih suatu untuk diperhatikan. Maksudnya,  kedewasaan muncul ketika seseorang belajar untuk peduli hanya pada sesuatu yang sangat berharga. Seiring bertambahnya usia, identitas mulai menguat, tahu siapa diri kita dan menerima sepenuh hati, termasuk bagian-bagian yang sama sekali tidak membanggakan dan membuat merasa merdeka, hidup apa adanya. Jadi, kita bisa menyisihkan perhatian kita yang semakin berkurang untuk hal-hal yang benar-benar layak dalam kehidupan. Penyederhanaan ini sesungguhnya membuat kita senantiasa merasa sangat bahagia.

Buku ini akan mengubah rasa sakit menjadi hal yang bermanfaat untuk kehidupan, trauma menjadi kekuatan dan masalah menjadi masalah yang baik. Bagaimana cara berlapang dada dan membiarkan sesuatu pergi. Ini akan mengajarkan kita untuk membuat mengerti arti kehidupan dan menyortir hal-hal yang penting saja. Dan berhenti menyakiti orang lain yang nantinya akan menyakiti diri sendiri.

Buku ini juga mengajarkan pada suatu prinsip “lakukan sesuatu”, kegagalan terasa tidak penting ketika standar kesuksesan hanya “melakukan sesuatu”. Ketika setiap hasil dianggap sebagai sebuah kemajuan dan penting, inspirasi dilihat sebagai sebuah imbalan ketimbang suatu prasyarat, kita mendorong diri kita lebih maju. Kita merasa bebas untuk gagal, dan kegagalan itulah yang menggertakan kita ke depan.

Katanya (mark manson), kita perlu menolak sesuatu. Jika tidak, kita kehilangan alasan untuk bertahan. Jika tidak ada sesuatu yang lebih baik atau lebih diinginkan dari pada yang lain, kita akan merasa hampa dan hidup kita menjadi tanpa makna. Kita hidup tanpa nilai dan akibatnya kita menghidupi kehidupan tanpa tujuan. Dalam hidup ini ada tiga hal yang sering kita hindari yaitu, karena sulit, karena menakutkan dan karena sama sekali tidak tau apa yang harus dilakukan. Dan ketika kita menghindar dari hal itu, kita membiarkan nilai-nilai sepele dan penuh kebencian membajak otak kita dan mengambil alih hasrat dan ambisi kita. Kuncinya adalah memahami dan melihat diri sebagai sesuatu yang lebih besar dan pada diri kita sendiri.

Kehidupan sekarang yang terjadi di masyarakat adalah sebagian mereka yang berhak atas sesuatu tanpa mau berkorban. Budaya kita sekarang merancukan antara perhatian yang besar, mengira kalau keduanya hal yang sama padahal tidak. Mark manson berpesan kepada pembaca untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, mengambil tanggung jawab atas pilihan-pilihan dan untuk mengejar mimpi tanpa perlu merasa malu dan terkekang.

Dari buku ini banyak manfaat yang bisa diambil, salah satu nya adalah bersikap acuh terhadap pandangan orang lain di hidup kita. Seringkali, kita mudah goyah saat mendengar perkataan orang lain kepada kita, bukannya introspeksi malah baper atau bahkan stres dengan sendirinya. Jika perkataan itu memang sejalan dengan apa yang terjadi maka hadapi itu, tetapi jika tidak maka acuh kan dan buang perkataan mereka. Hadapi yang dimaksud disini adalah jika perkataan mereka memang suatu kenyataan dan terjadi pada diri kita maka perkataan itu dapat menjadi cerminan diri sehingga kita juga harus mau mengakui dan memperbaikinya jika itu suatu hal yang buruk bagi diri kita atau untuk orang lain, bukan malah menghindari dan enggan memperbaiki. Tetapi, dalam buku ini tidak menyarankan kita untuk berusaha keras seperti keluar dari zona nyaman kita dan menggapai mimpi yang setinggi mungkin. Kita disarankan untuk lebih fokus dalam menerima dan menghadapi tantangan-tantangan kehidupan. Semangat untuk kita yang sedang memperbaiki diri dan semoga Allah memudahkan jalan kita dalam berproses.