Sabtu, 05 September 2020

Pergi

Akan ada saatnya yang terucap akan hilang
Waktu akan menghapus
Kesabaran yang terbatas
Kejelasan yang tanpa kabar
Hati yang kembali rumit

Saatnya untuk mengambil langkah
Seiring menghapus jejak lalu pergi 
Tidak ada yang salah 
Memang itu yang harus dilakukan
Tak usah kembali berharap

Tak ada yang salah 
Bahwa kita tak peduli kepada yang takpernah menyapa
Tak ada yang salah
Jika kita tak kembali percaya
Setelah semua kata yang terucap sirna oleh waktu

Tak perlu untuk disesali 
Hanya saja perlu untuk disadari
Bahwa apa yang terucap dari manusia
Bisa saja ingkar
Bisa saja hanya penenang di waktu yang belum jelas

Semakin yakin bahwa apa yang sudah diatur 
Kita hanya perlu mengiyakan 
Tanpa mengelak dan mengutuk
Memang bukan milik kita
Ikhlaskan bahwa semua kata, kini tak lagi berarti




Kamis, 20 Agustus 2020

Netizen (Jejak Pendapat 1)




Problematika kini...
Era digital yang tak bisa dihindari
Tetap mengikuti ritme digitalisasi agar tidak tertinggal dengan jaman
Berusaha untuk menyesuaikan trend yang ada 
Menelusur sudut pandang yang mendominasi dan ikut mendukungnya
Sosial media menjadi sumber landasan utama
Nafsu semakin menguasai
Menjadikan nalar mati tak berkutik
Bahkan hati nurani mendadak hilang

Padahal kita perlu untuk sadar, sebab..
Tak hanya pada batas trend dan suara mendominasi yang sifatnya menghakimi
Hingga nalar ditelantarkan

Banyak hal yang perlu diperhatikan
Era digital yang menuntut kita untuk bijak 
Boleh saja mengikuti trend tapi harus selaras dengan nalar
Pernyataan yang mendominasi juga tidak harus diikuti 
Perlu filter untuk mendukungnya
Jika tak difilter bisa jadi kita menjadi bu**er gratisan
Lebih hina bukan dari bu**er bayaran?

Hak kebebasan berpendapat memang dilindungi oleh Undang-Undang
Tetapi Undang-Undang bukan untuk kedok dalam seenaknya berpendapat
Tulisan kita di sosial media perlu diperhatikan
Pun hal yang kita bagikan juga perlu dipikirkan kembali 
Layak atau tidak, pantas atau tidak, kita sendiri yang menentukan

Hindari malas untuk membaca agar menjadi netizen yang cerdas
Semoga tetap dalam koridor waras 

Kamis, 06 Agustus 2020

Buku "ADAM (Antara Dia Aku dan Mereka)" Bagian 2: Perihal Masa Lalu

 


“Lucu, bagaimana sederhananya hidup ini. Begitu engkau berjalan maju, maka kenangan mulai meninggalkanmu. Adakah aku yang berjalan maju, atau kenangan yang meninggalkanku?”

Kutipan dari Buku ADAM yang butuh renungan untuk memahaminya, lalu tersadar bahwa seputar masa lalu loginya semudah itu, tapi terkadang kita yang sibuk untuk memperumit hal itu dengan berlarut dalam kenangan yang mungkin kebanyakan dari kita terjebak di masa itu dan sulit untuk bergegas dalam mengusahakan masa depan. 

Perubahan memang tidak serta merta hadir dalam benak, tetapi ia dimulai dari sebuah masa lalu yang mempunyai peranan sendiri untuk menghadirkan kesadaran. Peranan dari masa lalu memacu diri untuk perbandingan dengan kondisi kini bahkan masa depan. Jika kondisi saat ini kurang diinginkan, maka kita akan melihat masa lalu, sebuah riwayat yang ada dalam diri yang tidak dapat dihindari. Baik atau buruk dari cerita masa lalu atau kenangan adalah bagian dari diri, kita tak perlu memilah keduanya karena mereka  adalah bahan untuk belajar di masa yang akan datang. Dan dalam masa depan kita bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Baik dan buruknya masa lalu itu hanya perlu disimpan dan ditinggalkan. Menyimpan hal-hal baik dan meninggalkan hal-hal buruk. Kita perlu untuk berpindah guna membuat jarak, rentang jarak agar tidak lagi menyiksa dengan hal-hal yang berdampak pada diri.

Karena masa lalu memang untuk diselesaikan, bukan untuk dipendam lalu menjadi bom waktu yang akan meledak suatu saat nanti. Berdamai dengan masa lalu, untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya. Hanya kita yang tau bagaimana menempuh tujuan itu. Saat semua selesai dengan masa lalu, maka tidak ada yang bisa menghalangi apapun untuk menuju masa depan sesuai dengan tujuan.

Ada kalanya tiap-tiap mereka menuntut kita untuk melakukan sesuatu, padahal mereka tidak tau sepenuhnya dan tidak tau juga apa yang sebenarnya kita butuhkan. Tuntutan itulah yang terkadang menjadi beban yang bisa saja muncul sewaktu-waktu di masa yang akan datang. Tuntutan mereka bisa saja menghabisi kita di masa itu, jika bertolak belakang dengan apa yang sebenarnya kita butuhkan. Lantas bagaimana jika belum mengetahui apa  yang sebenarnya kita butuhkan? Apa yang ada di diri kita sebenarnya, ya hanya kita saja yang tahu, jiwa kita yang menyimpan apa yang sebenarnya kita butuhkan. Hanya saja selama ini kita sibuk dengan berisiknya sebuah tuntutan yang tak tau arahnya kemana. Ambil waktumu untuk mendengarkan isi hatimu dan ikutilah, menuruti diri sendiri akan mencukupi apa yang sebenarnya kita butuhkan, jika kita tau itu.

Dalam buku ini ada kalimat yang menyadarkan kita bahwa sering kali masa lalu itu menjadi beban, padahal kita perlu memahami semua yang sudah terjadi. Masa lalu bukanlah beban, hanya saja kita yang menjadikannya seperti itu. Masa lalu adalah sebuah peristiwa yang tak dapat diulang dan hanya perlu kita renungkan untuk mengubahnya menjadi energi baru dalam menghadapi apapun yang terjadi di masa kini atau di masa depan nanti.

Jika masa lalu masih menjadi beban, maka selesaikanlah. Jika tidak bisa dengan merenungkan dan memberi pengertian pada diri sendiri, minta bantuan kepada mereka yang benar-benar mengerti akan hal itu. Dan sebaik-baik jalan buntu yang kita temukan dalam hidup ini adalah hanya meminta petunjuk kepadaNya. Tetap hidup dan tetap bermanfaat di masa kini dan masa depan, kebebasan dan kebahagiaan sudah menanti disana J

Senin, 03 Agustus 2020

Prasangka


Sebuah pesan singkat,

Terimakasih telah memahami semua ini, jauh bukan berarti hilang. Tapi untuk menjadi sosok yang lebih bermakna. Berpetualang bukan hal yang menyeramkan, sendiripun juga begitu. Menjelajah dari satu peristiwa ke peristiwa lain.

Dalam menjalankan misi petualangan, jangan lupa mengambil makna disetiap tempat ya.. Aku yakin kamu adalah  petualang sejati, yang tidak membuang sampah sembarangan,yang tidak serakah mengambil manfaat milik alam, dan tak lupa istirahat saat benar-benar lelah. Sabar ya, sebentar lagi akan sampai pada tujuan dan akan berlanjut pada tujuan yang lain. Karena sejatinya hidup adalah sebuah perjalanan yang berujung pada mati.

Sekalipun sendirian dalam berpetualang, aku yakin kamu lebih menghargai setiap perjalanannya. Banyak waktu untuk merenung dan menyelami diri yang terkadang kita tidak pernah memahami diri sendiri ditengah hiruk pikuk keramaian. Terkadang kita jauh dari diri kita sendiri disaat ramai. Ramai karena mendengarkan kata orang-orang tanpa mengidahkan kata hati. Padahal apa yang sebenarnya kita butuhkan, hanya kita yang tau. Orang lain? Bagaimana bisa tau? Bagaimana bisa menuntut kita seenaknya? Bagaimana mereka bisa membanding-bandingkan kita dengan sudut pandangnya? Lantas bagaimana?

Semua ada pada kendalimu. Ya, aku yakin kamu adalah seorang petualang bijaksana. Kali ini kamu melakukannya sendiri untuk lebih memahami hal-hal yang sedang kamu usahakan dan yang akan kamu capai. Aku yakin, kamu pasti bisa. Dengan sendiri, kamu bebas menentukan mimpimu, berdiri diatas sana dengan meraihnya.

Aku yakin…tekadmu bulat, semangatmu ada, sabarmu  luas, dan doamu kuat.

 


Selasa, 21 Juli 2020

Buku "ADAM (Antara Dia Aku & Mereka)" Bagian 1: Kesadaran dan Perubahan


Akan ada beberapa bagian untuk tulisan terkait buku ini karena setiap lembar hanya terdapat beberapa kata dan terdapat ilustrasi yang menggambarkan cerita dari setiap tulisan. Dalam buku ini, setiap katanya membutuhkan renungan yang cukup dalam untuk memahami. Barakallah @hawariyyun dan ustadz @felixsiauw

 

“ Terlalu lama sudah kita meraba dalam kegelapan, tanpa tahu apa yang berada dalam terang. Maka ketika sinar itu merambat masuk, pastikan kau membuka jendela. Karena sungguh, jiwamu membutuhkannya. Dan lihatlah saat cahaya menerangi kamar kesadaranmu, kau tak akan ingin jendela itu tertutup lagi.”

Tentang sebuah kegelisahan akan kondisi diri sendiri, khawatir karena mulai mengenal kata berubah. Khawatir akan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat selama ini dan menyadarinya lalu diantara kekahawatiran itu terselip kata berubah.

Mulai menyadari bahwa diri ini masih berada dalam kondisi yang jauh dari kata baik yang diliputi dengan kebodohan.  Berangkat dari sebuah kesadaran itulah, maka timbul keinginan untuk berubah dengan cara tersendiri bahkan bisa saja melampaui orang lain.

Lantas bagaimana untuk memulai itu? langkah pertama yang dapat dilakukan adalah dengan melakukannya. Berubah tidak hanya sekedar keinginan, akan tetapi mulai “action” atau bertindak secara nyata. Tidak hanya hati yang merasa ingin berubah, tetapi mulut juga harus berkata, pikiran harus bekerja, tangan harus bertindak, dan kaki harus melangkah ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Langkah pertama adalah dimulai dari keyakinan yang sudah terlampau jauh meninggalkan sebuah keraguan.

Sadar bahwa jika sekedar keinginan tidak akan cukup untuk mengenal kata berubah. Maka butuh usaha yang maksimal untuk mencapai hasil yang maksimal juga. Hukum dari perubahan beserta hasilnya adalah berbanding lurus. Karena pada dasarnya tidak mengenal kata mudah dalam mewujudkan suatu perubahan, kemudahan tidak berjalan beriringan dengan keberhasilan. Dan jangan merasa cepat puas, karena yang demikian adalah musuh dari perubahan.

Harus diakui bahwa menyadari keburukan adalah awal dari kebaikan. Merasa lebih buruk adalah perasaan yang diperlukan ketika melakukan sebuah perubahan, agar tidak mudah cepat puas. Dengan begitu, langkah untuk melakukan perubahan akan semakin mantap dan kita tidak akan pernah merasa cukup untuk melewati setiap proses yang berjalan. Kita akan tetap tumbuh dalam setiap langkah perubahan.

Tuhan menciptakan waktu untuk kita mengisinya. Perihal mengisi waktu, kita sendiri yang berhak menentukannya. Dan perihal perubahan, maka waktu menciptakan sebuah kemungkinan beserta harapan bagi mereka yang mau bergerak dan melakukan prosesnya. Serta jangan lupa ketika akan menjalani sebuah proses perubahan, letakan terlebih dahulu beban-beban yang ada. Perubahan tidak mengenal kata beban, hanya saja momentum yang harus kita usahakan untuk mencapai tujuan. 


Rabu, 15 Juli 2020

tanpa

Alasan setiap orang untuk meninggalkan itu banyak, alasan yang bikin maklum adalah... ya karena takdir. Tetap kuat, hidup terus berjalan, manusia datang silih berganti dan kamu ya harus tetap hidup. 

Jumat, 10 Juli 2020

Luka

Sudah berusaha duduk, lalu memahami

Sudah berusaha untuk mengerti dan mencoba untuk memaafkan lalu menerima

Tapi, semua itu tak kunjung ada hasil

Apakah terlalu melabeli diri sendiri dengan kata “sudah berusaha?”

Apakah selama ini tak berarti apa-apa?

Atau apakah ada yang salah?

Bukannya setiap hati punya batas untuk menerima itu?

Perasaan yang tidak mudah untuk dibohongi dan tidak bisa dipaksa untuk terus memaafkan

Lalu kapan luka ini sembuh, jika setiap kali memahami, kembali dilukai

Jika setiap kali mengerti, tak lagi dihargai

Bukannya kita saling tau bahwa luka yang dalam juga perlu waktu untuk sembuh

Sungguh tidak mengerti dengan konsep terus menyakiti

Atau memang tidak sadar dan enggan sadar telah menyakiti?

Entah semakin memahami, semakin tidak waras

Kini adalah waktu untuk menyelamatkan diri

Sadari, tak ada manusia hebat manapun yang bisa menolong

Hanya dirimu, satu satunya manusia yang harus mengusahakan

Menolong dengan caramu, karena hanya kamu sendiri yang tau

Seberapa patah dan hancur

Jangan pernah mematikan hati yang berujung pada dendam yang akan membuatnya lebih hancur

Kini adalah waktumu untuk bergegas memperbaiki diri sendiri

Cobalah untuk menerima luka, bukan terus memaksakan untuk memahami 

Akuilah bahwa luka itu nyata, yang tidak nyata adalah amarah yang menguras hati, yang dapat membutakan dalam melihat kebenaran