Minggu, 30 Mei 2021

Lama..

Lama juga meninggalkan dunia tulis menulis blog

Rasanya penat juga kalau gelisahan itu tidak ditulis seperti biasanya. Mungkin setiap orang berbeda dalam menghilangkan atau sekedar melarikan atau mengalihkan rasa penatnya. Ya, balik lagi semua tergantung kebutuhan atau kayaknya lebih ke selera masing-masing. Tapi menulis dapat menjadi salah satu peredam penat. Menuliskan segala keresahan atau sekedar pandangan akan sesuatu.

Meninggalkan selama tiga bulan..rasanya lebih dari itu. Mangkrak akhirnya bingung mau nulis apa padahal banyak yang harus ditulis. Rencana demi rencana tak kunjung terwujud karena mungkin diri ini yang kadang sok sibuk, mencari alasan untuk mangkir hehe. Ya, sepertinya membuka PC membutuhkan lebih dari effort yang dibayangkan hanya menekan tombol ON. Entah..

Kangen, kesal dan menyesal

Kangen baca-baca tulisan sendiri yang sekedar keluh kesah dan pendapat yang disampaikan kurang bagus.Ya harus diakui kalau sudah mangkir tiga bulan dipastikan ngga pernah lagi untuk menyentuh atau membaca tulisan sendiri. Kangen nya koreksi tulisan-tulisan sendiri meski males banget karena lebih senang koreksi tulisan yang ilmiah karena ada “rules” nya ><. 

Kesal sih kenapa diri sendiri ngga explore lewat tulisan padahal banyak moment yang patut untuk dituliskan untuk bermanfaat lebih ke orang lain yang belum merasakan. Awal menjalani kegiatan baru sudah niat untuk menuliskan banyak hal, tapi kelelahan dibanding dengan keresahan yang dirasakan lebih besar presentasenya, terjadilah mangkir untuk menulis. Sudah menulsi konsep dan mencari bahan tapi tidak juga untuk diteruskan, begitulah kenapa pentingnya konsisten dalam menulis dan juga membaca harus seimbang karena memang saing dibutuhkan. Kesal sama diri sendiri yang mangkir tiga bulan, padahal bahan sudah ada dan tinggal eksekusi.

Menyesal karena itu tadi, tiga bulan tidak konsisten jadi pengaruh ke riwayat blog. Di masa depan nanti lihat list bulan di tahun 2021 pasti menyesal haha. Ngapain aja sih tiga bulan itu sampai ngga sempet buat nulis. Ya begitu menjalani kegiatan yang dirasa challenging dan sempoyongan menjalaninya jadi mangkir. Harusnya lebih bisa manajemen waktu buat nulis sih biar ngga sempoyongan juga. Ya begitu, kadang kalau sudah terlanjur sempoyongan mana mungkin bisa berpikir seperti itu haha.

Memperbaiki adalah jawaban untuk menghapus segala rasa kangen, kesal dan menyesal. Ya kalau diteruskan ketiga rasa itu akan menghabisi diri sendiri. Bakalan capek dan capeknya terus menerus, maka harus dihentikan dengan memperbaiki. Pelan-pelan ngga masalah yang penting mulai memperbaiki, sekescil apapun itu kalau konsisten hasilnya pasti akan baik juga. Semangat…Bismillah

 

 


Minggu, 28 Februari 2021

Yang benar dari sebuah rasa

Tidak ada yang salah perihal hati
Dari dasar perihal rasa
Rasa yang tumbuh atau sudah mati
Kini tak bertuan
Mengalahkan segala harapan
Dan yang ada adalah rindu tersisa
Tersisa atau tersiksa?

Sepertinya saling memahami
Begitu kiranya
Meyakinkan diri dalam kata positif
Menjauhkan dari prasangka tak baik
Mulai kehidupan dengan sendiri
Karena tak ada yang lebih baik untuk sekarang selain diri sendiri

Percayalah
Akan ada hari esok 
Esok yang lebih memihak
Perihal dunia yang memuakkan
Kuburlah dengan rasa syukur 
Tumbuhkan untuk menjadi diri yang tidak merugikan
Setidaknya berjuang untuk membahagiakan diri
Hapus segala penyesalan
Mari membuka lembaran yang tersedia
Jangan berhenti disini
Entah nanti dengannya
Atau dia dengan yang lain
Atau diri dengan yang lain
Tak ada yang salah
Yang salah hanya sebuah rasa yang tersisa dan tak terbuang

Rabu, 06 Januari 2021

2020

 



Sedikit kisah yang dapat ditulis dan diingat. Tak banyak peristiwa yang terjadi karena pandemi di awal tahun ini. Banyak rencana yang harus ditunda, berbagai jadwal yang belum tau kapan akan terlaksana, dan ada banyak hal yang ingin dicapai tetapi terhalang oleh jarak karena memang harus patuh untuk kebaikan bersama.

Ya, semua banyak hikmahnya. Semua terjadi begitu saja tanpa terpikirkan menjadi segala sesuatu yang harus dihadapi. Pemikiran-pemikiran yang dahulu tiba-tiba merubah pola pikir dan sedikit mengubah bagaimana menjalani kehidupan, seperti berjabat tangan atau memeluk ketika saling bertemu kini menjadi suatu hal yang langka karena harus saling menjaga satu sama lain. Pasti terasa aneh jika tidak melakukannya karena sudah menjadi kebiasaan, terutama kita orang Indonesia. Ya, semua harus adaptif. Akan banyak perubahan-perubahan yang datang nantinya, semua alasan diterima untuk kebaikan bersama.

Mungkin 2020 menjadi tahun yang melelahkan, bukan karena ada banyaknya pekerjaan yang dilakukan, tetapi banyaknya hal yang harus kita maklumi. Keadaan yang tiba-tiba berubah dan akan berlangsung lama tanpa kita tau berakhirnya kapan, membuat kita banyak-banyak menghela nafas. Bukan hanya keadaan yang tidak baik-baik saja, tetapi manusia juga turut tidak baik-baik saja.

Begitulah..waktu yang panjang, tetapi terasa singkat. Tanpa kesan tetapi banyak pesan.

Jangan abai terhadap waktu meskipun dunia begitu cepat berubah. Harus lebih giat untuk tetap memelihara semangat mengejar perubahan kehidupan, bukan hanya soal dunia tetapi soal pribadi yang harus adaptif dengan tidak merubah jiwa atau nurani sebagai manusia. Tetap menghidupkan tolong-menolong, jujur, amanah, saling memberi, mengasihi, adil, dan menghormati. Semoga tahun 2021 adalah tahun dengan perubahan yang cepat untuk sembuh.

 

Senin, 28 Desember 2020

ADAM (Antara Dia Aku dan Mereka) Bagian 7: Self Awareness

 


“Seperti siapa aku?

Apa yang harus kulakukan?

Dan mengapa aku ada?

Apakah aku punya tujuan tertentu di dunia?

Dan setelah mati, apakah keadaanku?”

Kutipan di halaman 84 dari buku ini yang mungkin membuat pembacanya tertampar. Beberapa pertanyaan yang menggugah kesadaran kita sebagai manusia di muka bumi ini. Lalu pertenyaan-pertanyaan itulah bisa membuat kita terus memikirkannya karena kita butuh merenung untuk menemukan sebuah jawaban yang harus di konfirmasi juga oleh hati masing-masing. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mampu membawa kita pada jalan yang benar jika kita mau berusaha, karena pertanyaan-pertanyan inilah yang mampu menjadi pembuka pintu hidayah atau  ibaratnya seperti kita berada di lorong yang gelap kemudian menemukan seberkas cahaya, jika kita mau berusaha untuk mencari dan menemukannya maka akan menemukan jalan keluar dari ruang gelap yang kita hanya mampu meraba tanpa melihat.

Merenung memang dibutuhkan untuk hal-hal yang menjadi kegelisahan dalam diri dan diharuskan untuk berdiskusi dengan diri sendiri. Kutipan pertanyaan di atas mari kita renungkan dan mulai cari tau yang sebenarnya, tentu saja dengan dasar ilmu yang kuat yaitu Al Quran, yang membahas semua kehidupan dulu, kini, dan nanti. Setelah mencari ilmunya, tanyakan kepada hati untuk dikonfirmasi agar kita memahami kandungannya dan kita mempunyai alasan dengan jawaban-jawaban yang kita temukan. Mengapa begitu? Karena hati adalah bagian dari diri yang tidak bisa dibohongi, yang pada dasarnya hati memang suci dan kita harus meyakini  itu. Segala keburukan yang ada pasti akan terdeteksi lewat hati, jika tidak terdeteksi maka tertutup hati manusia itu dengan hal-hal yang kotor.

 

Sabtu, 26 Desember 2020

Memulai dan Melangkah

 

Aku yang terlalu fokus dengan lara

Sampai lupa bahwa ada kamu yang berusaha untuk menyembuhkannya

Tak sadar bahwa ketulusan itu memang benar adanya

Bahwa kamu adalah seseorang yang kubutuhkan

Ku harap memang benar adanya

Mengajarkanku bahwa aku berhak untuk bahagia

Tidak lagi terbelenggu dalam luka yang dalam

Tidak lagi menyelam samudra masalah dengan sendirian

Karena katamu kamu akan berjalan beriringan denganku

Kita yang pernah tenggelam dalam luka

Tapi kamu memulai dulu untuk sembuh

Sedangkan aku? Aku masih sibuk menikmati luka yang membelenggu

Hingga kini sadar, bahwa ada banyak mimpi yang harus kita perjuangkan

Sembuhkan luka tanpa mengutuk takdir

Menikmati hidup dengan penuh syukur

Dan sekarang adalah waktunya

Meninggalkan semua yang membelenggu

 


Jumat, 04 Desember 2020

Buku ADAM (Antara Dia Aku dan Mereka) - Bagian 6: Semua Begitu Teratur



Pernah berpikir ngga sih bagaimana kehidupan ini berjalan? Jatuhnya daun-daun, para pengemis yang terlihat sehat yang mungkin hanya terpenuhi kebutuhan pokoknya saja, orang kaya yang raut mukanya kadang terlihat tertekuk padahal barang yang diinginkan dapat dibeli, tanaman yang tumbuh hijau sekalipun di gurun ia di gurun yang minim air, paus biru yang begitu besar tapi makanannya plankton, pelangi yang warnanya begitu harmonis dan masih banyak lagi peristiwa atau makhluk hidup yang kalau kita renungkan pasti banyak pertanyaan yang muncul, mengapa ada? bagaimana prosesnya? dimana awal terjadinya? siapa yang menjadikannya? dan mengapa begitu teratur?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat sebagian orang semakin meyakini bahwa semua itu ada yang mengatur, yang jika kita renungkan lebih lanjut semua yang berperan dalam kehidupan ini mempunyai kesempatan dan hak yang sama sesuai dengan penciptaannya. Seperti halnya tumbuh-tumbuhan yang bernafas dengan Co2 dan berfotositesis lalu menghasilkan O2 untuk manusia bernafas.

Jika peristiwa yang kita renungkan begitu teratur maka ada masa atau waktu yang mengiringi. Kehidupan di dunia memang erat dengan suatu masa yang dapat dijadikan tanda terjadinya peristiwa, yang lalu dan yang akan datang. Dua masa yang pasti semua makhluk mengalami, ada yang ber-revolusi ada juga yang ber-evolusi, ada yang punah ada yang masih bertahan meskipun langka, ada yang lama dan ada yang baru. Begitulah kehidupan berjalan, ada yang ditinggalkan ada pula yang datang. Selayaknya peristiwa lama yang diridukan dan peristiwa baru yang disambut dengan suka cita.

Ada yang membuat menarik dari sebuah kehidupan, mengapa menarik? Karena kehidupan bersifat fluktuatif. Kehidupan tidak menetap pada suatu tempat atau keadaan, akan selalu berpindah dan akan akan selalu berubah. Terkadang kita berada di tempat tinggi dan juga berada di tempat rendah. Selalu ada alasan ketika kita di tempatkan di suatu tempat, misalnya kita di tempatkan pada titik terendah dalam hidup yang tujuannya agar kita bisa menengadah dan memohon petunjuk pada Allah.

Jika kita meluangkan waktu untuk merenung atas apa yang sudah terjadi dalam kehidupan, maka akan mudah untuk kita menemukan jawaban mengapa kehidupan ini begitu teratur. Merenungkan bukan asal merenung, tapi dengan kemurnian hati dan keterbukaan pikiran yang sama-sama berjalan.

                                                                                                                       

 


Minggu, 29 November 2020

NovembeRun


Terkadang jiwa yang kosong memang seringkali terjangkit
Terjangkit berbagai prasangka
Menerka seakan menjadi kebiasaan
Pikiran di selimuti rasa was-was
Sejenak melupakan tapi kemudian teringat lagi
Seakan prasangka itu rekat melekat

Harapan dan ambisi
Banyak yang memudar hingga hilang
Keduanya menjadi semu dalam diri
Tersadar bahwa diri ini masih butuh keduanya
Agar tetap hidup dan tidak mati
Selayaknya kata "bahwa hidup itu memang tidak mudah"

Tersadar juga bahwa diri ini seringkali merasa jauh dari kata mampu
Memang benar adanya
Jika terus berdiri dan hanya melihat
Sekarang memang seperti terjerat jika ingin berpindah
Tapi tantangan hidup memang begitu adanya
Manusia hidup diciptakan untuk keluar dari setiap jeratan-jeratan
Terlepas dari jeratan jika raga sudah tak lagi ada