Selasa, 21 April 2020

Bersama?


Katanya ingin jalan bersama
Tapi yang ia ajak untuk jalan bersama tak tau tujuannya
Tapi yang ia ajak untuk jalan bersama tak tau petanya
Petanya kini masih ia sembunyikan
Lalu yang ia ajak untuk jalan bersama bertanya-tanya sepanjang perjalanan
Akan sampai kapan dan kemana arahnya
Waktu yang tak tentu dan arah yang samar
Lelah karena melihat ia yang terlalu fokus, hingga terkadang ia melupakan 
Melupakan yang ia ajak berjalan bersama
Lupa bahwa ia mengajak seseorang dalam perjalanannya
Jika sendiripun tidak masalah tanpa ada yang menemani
Mengapa ia ajak seseorang untuk menemani?
Sampai kapan berjalan dengan peta yang ia sembunyikan
Lalu sampai kapan menebak teka-teki perjalanan ini yang memakan waktu dan tenaga
Jika ia terus memakan ego, bagaimana bisa berjalan bersama?
Yang ia ajak berjalan tertatih sudah pasti, jenuh apalagi
Tidak mudah untuk berjalan bersama jika ia terus penuh dengan teka-teki
Berjalan tanpa tau arah saja sudah lelah apalagi sembari menebak teka-teki yang tidak ada petunjuk didalamnya, petunjuk yang ia genggam tanpa ia beritau
Awalnya yakin, tapi seiring berjalan lelah juga
Andai saja ia memberi tau tujuan yang jelas, menunjukkan peta yang kau genggam, dan waktu yang akan ditempuh
Maka berjalan bersama sejauh apapun, selelah, sepanjang, sejenuh apapun akan tak kenal lelah
Perihal bersama bukan untuk menjadi yang serba tau dan tak tertandingi
Tapi perihal bersama adalah untuk menapaki kata saling agar bisa terus bersama




Senin, 13 April 2020

Sebuah Ambisi Dunia


Terjebak dalam ambisi itu pahit
Ambisi yang terpasung yang dibentuk campur tangan orang lain 
Membuat diri berekspektasi tinggi
Meskipun banyak yang meyakini dan mengaamiini
Tapi, terkadang lupa diri karena terlalu mendengarkan mereka
Lupa bahwa ada hati yang juga ingin didengar
Lupa bahwa diri dipaksa  untuk yakin
Lupa bahwa semua itu bergantung pada keyakinanmu
Ada hati yang ingin menolak tetapi tertutup oleh indahnya ekspektasi
Ada diri yang harus tumbuh tetapi tertutup oleh silaunya dunia
Padahal diri ini terlampau jujur ingin terus belajar
Hidup adalah untuk belajar
Terjatuh, tersungkur berulang kali tidak masalah asal bangkit kembali
Semakin sering terjatuh, semakin lihai untuk jatuh yang indah agar tidak sakit
Jatuh dan bangkit lagi adalah sebuah seni kehidupan yang terus dan harus diasah
Hasilnya tidak bisa diukur dengan kuantitatif, berapa kali kamu jatuh?
Tapi hasilnya bisa diukur dengan kualitatif, bagaimana rasanya?
Memaknai kehidupan tidak bisa diukur dengan angka
Karena hanya dapat diukur dengan rasa




Minggu, 29 Maret 2020

Tentang Covid-19


Awal bulan Maret (2020) adalah bulan dimulainya penyebaran Covid-19 di Indonesia. Pemberitaan mulai menghiasi layar handphone dan televisi karena salah satu warganya positif terkena virus yang asalnya dari Wuhan, China yang pemberitaannya heboh seluruh dunia lalu kemudian disusul dengan negara-negara lain. Bisa dilihat, warga Indonesia saat muncul pemberitaan kasus yang di Depok (kasus pertama kali) masih belum peduli terkait hal ini mereka masih beraktifitas seperti biasa pun dengan pemerintah juga masih santai menanggapinya, wajar saja jika warganya seperti ini. Acara seminar dan aktifitas khalayak ramai juga masih bisa diselenggarakan, acara seperti ini yang menjadi cikal bakal penyebaran virusnya seperti yang dialami Bupati Karawang dan Wakil Wali Kota Bandung yang sekarang positif terkena virus. Tidak ada yang disalahkan karena masih sama-sama menyepelekan kasus ini.
Seiring berjalannya waktu kasus penyebaran virus semakin bertambah, pemerintah mengumumkan datanya lewat Jubir kasus Covid-19 yang sekitar tiga hari mengumumkan pertambahan jumlah kasus. Pada akhirnya karena setiap hari kasusnya bertambah maka pemerintah memutuskan untuk update data lewat website, tidak lagi lewat konferensi pers seperti awal mula. Pemberitaan tentang penyebaran virus bisa diakses di laman https://covid19.kemkes.go.id dan bahkan setiap daerah juga memiliki website terkait update data di wilayahnya masing masing dari data desa sampai provinsi. 
Kondisi saat pertama kali penyebaran, warga Indonesia mulai panic buying mulai dari masker, handsinitizer, alcohol, alcohol swap sampai handscone yang menyebabkan kelangkaan dan harganya melambung tinggi. Sebenarnya untuk masker harganya sudah meroket sejak satu-dua bulan sebelum kasusnya sampai di Indonesia. Panic buying yang sebenarnya untuk tenaga medis menyebabkan rumah sakit kesulitan memenuhi kebutuhannya karena berlomba-lomba dengan masyarakat yang sibuk meredam keparnoan atau masyarakat yang sebagian berlomba-lomba mencari keuntungan disaat situasi seperti ini.
Disisi lain sampai detik ini pemerintah pusat juga belum mengeluarkan kebijakan untuk lockdown guna meminimalisir kebijakan. Bandara, stasiun dan terminal masih terbuka lebar untuk mengantarkan kemana saja mau pergi. Zona merah sudah digaungkan tapi warga masih bebas bermobilitas, jnagan salahkan diri kalau sering gagal paham dengan pemerintah. Bagaimana mau menghentikan penyebaran sedangkan masyarakat masih bermobilitas tanpa hambatan? Rasanya sulit menghentikan angka positif, PDP, ODP maupun ODR yang semakin hari semakin meroket, bukan lagi angkanya bertambah tapi angkanya berubah menjadi berpangkat.
Lockdown masih menjadi kata yang masih saja membuat ragu atau takut bagi pemerintah. Dalih pemerintah jika lockdown maka rakyat kecil akan sengasara untuk menyambung hidup mereka tapi dua hari atau tiga hari lalu Jubir pemerintah khusus Covid-19 menyatakan kalau rakyat kecil dimohon untuk bisa menjaga orang kaya agar virusnya tidak tersebar, pernyataan yang mencengangkan bagi yang sadar seketika mematahkan asumsi pertama yang seolah menjatuhkan martabat mereka. Keputusan yang seperti apa nanti yang akan dibuat pastinya tetap positif thinking kepada pemerintah karena mereka lebih tau karakter masyarakatnya dan  lebih tau data (katanya). Jika dalih perekonomian menjadi salah satu alasan, bukankah dengan seperti ini juga masih juga hancur tapi secara perlahan dan secara cepat virusnya juga menyebar? Dan tidak ada yang tau berakhir sampai kapan
Kondisi saat ini jalanan sudah mulai sepi karena pembatasan akifitas tetapi masih ada yang lalu lalang karena memang memenuhi kebutuhan, kafe dan tempat nongkrong juga sudah sepi dan tutup karena ada Satpol PP yang mengawasi atau membubarkan jika ada keramaian. Social distancing sekarang berubah menjadi physical distancing karena maknanya memang berbeda, physical distancing dirasa benar karena memang hanya fisik yang berjarak tapi tetap menjunjung kepedulian agar tidak terjadi penyebaran virus. Tapi sangat disayangkan dnegan orang-orang yang masih belum paham akan physical distancing yang menggunakan waktu Work From Home atau #dirumahaja menjadi momen mudik karena memanfaatkan waktu yang lebih luang dari biasanya, tanpa mengidahkan dia sebagai carrier (pembawa virus) atau bukan agaknya kurang peduli atau memang belum paham atau memang mumpung masih bisa bermobilitas karena kendaraan umum masih berlalu lalang yang bisa mengantarkan untuk pulang kampung halaman.  Tidak boleh menutup mata juga dengan usaha-usaha pemerintah yang dilakukan secara perlahan, seperti penyemprotan disenfektan di daerah-daerah meskipun petugas penyemprotan belum paham tentang kandungan bahan yang disemprotkan sehingga leluasa menyemprotkan disenfektan sesuka hati tanpa mengetahui dampaknya (yang menurut WHO disenfektan mengandung bahan klorin yang membahayakan selaput lendir, akan bahaya jika terkena pakaian atau kulit), himbauan surat untuk melapor jika baru datang dari luar kota, melarang kegiatan yang melibatkan banyak orang, menghimbau untuk berdiam diri di rumah atau karantina selama 14 hari bagi mereka yang ODP, melarang warganya yang di perantauan untuk mudik karena untuk menjaga terjadinya penyebaran virus. Disisi lain pemerintah Tegal telah memberlakukan karantina wilayah, yang menyatakan tidak peduli dengan hujatan karena memang demi keselamatan nyawa masyarakatnya. Ketegasan pemerintah Tegal patut dicontoh, jika pemerintah masih bergerak perlahan maka Tegal lebih dulu menyelamatkan daerahnya dengan segala usahanya yang juga tetap memikirkan kebutuhan logistik warganya dan tetap memperdulikan warganya yang kurang mampu. Selain pemerintah banyak juga #orangbaik yang menanggapi kasus ini untuk sekedar membagikan postingan valid tanpa membuat panik, influencer yang menggalang donasi untuk kebutuhan rumah sakit-rumah sakit, influencer yang traktir makan ojol lewat orderan sehingga banyak yang terinspirasi dan melakukan hal yang sama, banyak yang membagikan handsinitizer kepada mereka yang bekerja di luar rumah dan masih banyak lagi kebaikan-kebaikan yang dilakukan.
Sisi rumit dan pelik adanya kasus Covid-19 harus ada sisi lainnya. Sebagian orang yang menyadari mulai menyuarakan atau menulis tentang hikmah dibalik Covid-19 ini, dengan adanya pembatasan aktifitas maka #dirumahaja menjadikan momen bersama keluarga jadi lebih hangat atau kalau sedang merantau ya waktu luangnya yang biasanya sibuk menjadi ada waktu untuk sekedar melakukan bersih-bersih, solidaritas yang baik melahirkan banyak orang baik yang berdonasi untuk ikut andil menangani kasus ini, jalanan yang macet dan banyak debu kini kian lengang dan udara menjadi bersih, ibadah yang dulu bisa di tempat khusus beribadah untuk berjamaah kini hanya bisa dirumah dan muncul pertanyaan kapan terakhir kali ke tempat ibadah, jika biasanya waktu habis untuk kesibukan yang tidak pernah ada habisnya maka saat ini merenung akan menjadikan pilihan baik untuk menyadari hal-hal yang sudah diperbuat selama ini.
Masih banyak hikmah yang belum disebutkan, mungkin kita harus terus berpikir dan melengkapi hikmah yang belum disebutkan. Jangan berhenti untuk bersyukur dan mulai berhenti untuk mengeluh. Ini hanya sebuah tamparan yang diberikan kepada kita agar tersadar karena selama ini hanya diingatkan dengan berbagai cara tak kunjung bangun, mungkin dengan cara seperti ini manusia lebih tersadarkan.  Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan fisik dan mental, manfaatkan waktu luang untuk berpikir positif dan merenungi apa yang kita lakukan selama ini sudah pada jalur manusia atau sudah terlampau batas kemanusiaan.



Sabtu, 28 Maret 2020

Pasti Berlalu

Kisah yang rumit, berakhir dengan rasa lega
Kisah yang menyesakan, berakhir dengan kelapangan
Kisah yang panjang, berakhir dengan keikhlasan
Kisah yang menyudutkan, berakhir dengan rasa menerima

Memang benar, tidak semua permasalahan selesai dengan sendirinya
Penuh upaya untuk mengusahakan
Butuh waktu yang panjang
Butuh air mata sepanjang malam
Butuh sabar yang menguras tenaga

Hingga akhirnya mulai memahami
Untuk menjadi paham dan menerima, bukan hal yang mudah
Masing-masing punya zona waktu tersendiri
Tanyakan pada diri jika masih berat menjalaninya
Tanyakan pada hati jika banyak beban yang dirasa
Mungkin saja belum menerima yang sudah ditakdirkan
Ada banyak hal yang kita tidak punya kuasa didalamnya
Ada banyak hal yang kita hanya bisa menerima
Ada banyak hal yang menuntut kita untuk paham, agar bisa tetap hidup
Semuanya bukan perihal rasional atau tidak rasional
Ada banyak hal yang harus kita terima diluar kendali kita
Ada banyak hal yang harus kita maklumi
Ada banyak hal yang harus kita nikmati tanpa merasa itu adalah sebuah beban

Saatnya berdamai dengan diri sendiri
Saatnya memahamkan segala yang diluar kendali
Saatnya menerima segala yang ditakdirkan
Saatnya mengusahakan untuk kebermanfaatan
Saatnya meluaskan pandangan perihal hidup
Saatnya melebihkan sabar untuk berjuang

Hidup bukan sekedar meratapi
Hidup juga bukan untuk sebuah perbandingan
Hidupku hidupmu tentu berbeda

Kita berasal dari kisah yang tak sama
Tentu berbeda pula bekal kekuatan yang kita punya
Saling menerima kesedihan dan kesenangan masing-masing
Tidak ada yang paling menderita, yang ada yaitu yang memilih untuk bahagia
Keduanya adalah sebuah pilihan yang bisa kita tentukan.

Sabtu, 29 Februari 2020

Entah




Ketika menyakiti menjadi bagian dari rasa takut 
Menghindar adalah bagian dari solusi sementara yang tepat
Tapi, ternyata menghindar dan diam bukan sebuah solusi
Entah..masih ada saja yang hadir
Entah..untuk sekedar memuaskan hasrat penasaran 
Atau memang niat dengan benar
Pandanganku seketika berubah
Ternyata menghindar, diam ataupun bergerak
Punya resiko yang sama
Terkadang diri yang terlanjur menjadi seperti ini

Tapi kini bertumbuh keluar dari zona aman
Menjawab semua pertanyaan
Mengulik bagian luka
Tidak ada tuntutan untuk harus mengerti dan paham
Tidak memaksa untuk berjuang
Hanya saja ingin diterima tanpa alasan
Seperti katanya mencintai dengan dalih tanpa alasan
Semua usaha bermakna dan tidak hilang begitu saja
Semua terakumulasi dengan baik
Hukumnya berbanding lurus, tidak berbanding terbalik
Jika berbanding terbalik dengan keinginan
Memang takdir berjalan dengan hukumnya
Pasti itu yang terbaik
Semua sudah tertulis, mari menjalankan apa yang sudah diatur
Jika anggapan ini adalah suatu hal yang rumit, mungkin  memang belum bisa menerima

Salah



Kudengar lalu kusadari bahwa…
Hati itu bukan untuk ikhtiar
Tapi hati itu untuk tawakal
Ikhtiar hanya untuk diri
Sepertinya selama ini keliru
Mengaggap bahwa hati bisa di ikhtiarkan
Sekali duakali mengikhtiarkan hati dan hasilnya adalah lelah
Mengikhtiarkan hati dengan dalih menguatkan
Menguatkan dengan kata baik-baik saja
Tidak serta merta menguatkan tapi hasilnya masih terpikirkan
Justru mengarahkan diri untuk membohongi perasaan yang ada di hati
Kini baru menyadari bahwa hati bisa tenang jika dengan tawakal yang mengiringi
Apa itu tawakal?
Tawakal itu ketika hatimu bisa berserah kepada yang menciptakan
Pasrah dengan apa yang dialami dan yang akan terjadi nanti
Pasrah dalam hati, jangan lupa untuk ikhtiar dalam usaha
Pasrah bukan untuk berhenti, tapi pasrah untuk move on ke arah yang lebih baik
Pasrah dalam bentuk tawakal adalah cara yang benar untuk menguatkan hati
Pasrah dengan keyakinan bahwa akan ada rencana baik dan indah dibalik semua yang terjadi
Pasrah karena yang akan terjadi adalah atas kehendakNya
Pasrah karena kita adalah makhluk yang tidak mengetahui sedikitpun perihal masa depan
Pasrah atas apa yang terjadi dan jangan lupa fokus untuk hidup yang lebih baik dan bermanfaat
Karena takdir sudah tertulis
Mari redam hati dengan tawakal
Mari redam kegelisan perihal masa depan dengan ikhtiar

Sabtu, 15 Februari 2020

DIKTE

Kita tidak hidup dalam bayang dikte orang lain
Perkataan-perkataan yang sebenarnya menusuk
Perkataan-perkataan yang tak tau kondisi
Kadang perlu untuk menutup telinga
Tidak selamanya perkataan orang yang kita anggap teman adalah kebenaran
Hati-hati seringkali terbawa arus
Hingga kita tak sadar sudah terjerumus
Mengikuti arus dikte yang semena-mena
Dengan dalih pertemanan lantas mengambil keputusan untuk menuruti

Kita bukan mainan yang bisa ditekan tombol on atau off
Kita berhak punya rasa
Kita berhak untuk membela diri
Kita berhak untuk memilih
Selagi untuk kebaikan diri sendiri
Mari menjadi bebal, jika kata-katanya menjadi racun
Tak perlu menuruti tuntutan atas dasar ego orang lain, bukan?